Sepotong Senja Untuk Pacarku

27 05 2010

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

karya : Seno Gumira Ajidarma

sumber : http://sukab.wordpress.com/2007/05/31/sepotong-senja-untuk-pacarku/

setelah membaca cerpen di atas ada beberapa hal terbersit yang sempat terpikirkan olehku..

Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan cerita Sepotong Senja untuk Pacarku. Menurut saya cerpen dari Seno Gumira Ajidarma menggunakan imajinasi yang berlebihan. Saking berlebihannya, tokoh utama dalam cerita tersebut menjadi egois demi cinta. Dan juga menurut saya imajinasi ketika tokoh utama memotong senja pun terlalu berlebihan dan sangat egois. Selain itu pada bagian adegan kejar-kejaran dengan polisi pun terlalu berlebihan karena diimajinasikan dengan adegan film Hollywood, lagi-lagi berlebihan. Menurut saya imajinasi penulis bukan imajinasi rata-rata orang kebanyakan, oleh sebab itu imajinasi penulis tidak cocok dengan imajinasi saya. Tapi, itulah cerpen. Penulis bisa mengekspresikan dirinya melalui tulisan-tulisannya secara bebas. Setiap menulis sebuah tulisan pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Hal itu bukanlah hal yang aneh. Karena dalam dunia ini hanya ada hitam dan putih.





Resensi CHARLIE AND THE CHOCOLATE FACTORY

27 05 2010

“Charlie and the Chocolate Factory” diadaptasi dari buku “Charlie and the Chocolate Factory” karya Roald Dahl. Dan dibuat versi film dengan arahan sutradara Tim Burton.

Untuk kesekian kalinya Tim Burton memasang aktor kawakan Johnny Depp untuk membintangi filmnya sebagai Willy Wonka, setelah Edward Scissorhands (1990), Ed Wood (1994), Sleepy Hollow (1999), Corpse Bride (2005), Sweeney Todd (2007), dan yang terakhir Alice in the Wonderland (2010).

Dikisahkan seorang anak dari sebuah keluarga miskin yang bernama Charlie Bucket (Freddie Highmore) yang sangat menyukai coklat. Tapi sayang, karena orang tuanya sangat miskin dan tak mampu membelikan coklat, Charli jarang memakan makanan favoritnya. Ibunya (Helena Bonham Carter) hanya sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya (Noah Taylor) adalah buruh pabrik yang gajinya sangat kecil. Kakeknya, Joe (David Kelly) hanya gemar mengingat masa-masa bahagia sewaktu dia bekerja di pabrik coklat Wonka.

Suatu hari pemilik pabrik permen dan coklat Willy Wonka (Johnny Depp), yang tak pernah dilihat oleh seorangpun selama bertahun-tahun, mengumumkan perlombaan di seluruh dunia untuk lima anak yang akan mendapatkan kesempatan tur di pabriknya. Tiket emas telah disembunyikan di lima batang coklat produksi Wonka yang tersebar di seluruh dunia. Keberuntungan memihak Charlie. Charlie adalah salah satu dari lima anak mujur itu. Untuk tur berkeliling di pabrik Wonka, masing-masing anak hanya boleh ditemani oleh seorang wali dewasa. Charlie awalnya bimbang akan pergi dengan siapa, tapi pada akhirnya ia memilih Grandpa Joe sebagai walinya karena ia pernah bekerja untuk Wonka.

Di kerajaan gula-gula tersebut, lima anak yang berkesempatan untuk tur di pabrik Wonka pun bertemu. Berbeda dengan Charlie, anak lain adalah anak-anak nakal: Gluttonous Augustus Gloop (Philip Wiegratz) adalah German Junge yang hanya memikirkan akan memenuhi perutnya dengan gula-gula. Veruca Salt (Julia Winter) anak manja yang selalu cemberut dan suka mengamuk sewaktu-waktu saat ayah kayanya (James Fox) tak bisa memenuhi keinginannya. Violet Beauregarde (Annasophia Robb) ahli bela diri yang selalu bersaing di semua hal, bahkan dalam mengunyah permen karet. Yang terakhir si anak nakal Mike Teavee (Jordan Fry) yang memiliki pengetahuan yang dianggap superior lebih dari orang lain.

Sementara mereka mengikuti tur, mereka tak mengetahui bahwa diam-diam Wonka mempunyai rencana lain. Ia menjanjikan sesuatu untuk siapa saja yang amsih bertahan dalam tur itu sampai selesai.

Akhir dari cerita sebenarnya sangat mudah ditebak, orang yang tadinya sangat miskin menjadi kaya. Tetapi karena kepiawaian sang sutradara, adegan-adegan yang ditampilkan membuat kita tidak akan bosan menonton film ini. Karena ada banyak hal-hal fiktif yang sangat menarik untuk ditonton. Selain itu banyak sekali pesan moral yang disampaikan melalui film ini. Secara keseluruhan film ini sangat bagus dan layak untuk ditonton oleh kalangan semua umur.





Yang Terjadi di Lampu Merah..

27 05 2010

Setiap hari saya selalu menggunakan kendaraan umum untuk bepergian, biasanya saya menggunakan bis untik sampai ke tempat tujuan. Ketika saya pergi ke kampus, bis yang saya tumpangi melewati beberapa perempatan dan pertigaan. Di pertigaan yang menghubungkan Jalan Glagahsari dan Jalan Kusumanegara, bis yang saya naiki terhenti karena lampu merah menyala. Bis pun berhenti sekitar 1 menit. Saya memperhatikan keadaan sekitar karena tidak ada lagi hal yang bisa saya lakukan. Ternyata, tidak semua perempatan di kota yang saya tinggali ini terdapat polisi lalu lintas, hal ini terbukti karena di perempatan ini tidak ada polisi yang sedang bertugas. Walaupun tidak ada polisi, warga mesyarakat tetap patuh terhadap peraturan. Kemudian saya memperhatikan ada seorang pengamen yang menyanyi dari mobil ke mobil sampai akhirnya menyanyi di bis yang saya tumpangi. Dengan gitar klasik yang dimilikinya, ia menyanyikan sebuah tembang lawas. Sejujurnya suaranya tidak terlalu enak didengar tapi ia menyanyi dengan penuh percaya diri. Saya salut akan hal itu. Saya ingin sekali tertawa karena suaranya yang unik. Tetapi, saya menyadari bahwa tidak ada orang yang bisa saya ajak tertawa bersama. Yang ada hanyalah orang-orang yang tidak saya kenal. Jika saya tertawa, orang-orang itu akan berpikir bahwa saya orang yang tidak waras. Akhirnya saya cuma bisa terdiam. Ketika pengamen itu selesai menyanyi, ia meminta bayaran, saya memberinya uang walau suaranya tidak terlalu bagus tapi ia cukup menghibur. Setelah itu ia turun dari bis. Tidak terasa 1 menit pun berlalu dan akhirnya lampu hijau menyala pertanda bahwa bis harus melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah pertigaan yang menghubungkan Jalan Glagahsari tadi, bis terhenti lagi di perempatan Taman Siswa. Kali ini bis akan berhenti 106 detik, hampir 2 menit, lebih lama dari pertigaan sebelumnya. Di perempatan ini saya melihat pemandangan yang unik. Di siang hari ada 2 orang waria sedang bersenandung ria di pinggir jalan itu. Saya berharap bahwa mereka tidak menaiki bis ini karena sebenarnya saya takut dengan waria. Tapi harapan saya tidak terkabul, mereka mngamen di bis yang saya tumpangi. Dan hal bodoh yang saya lakukan adalah berpura-pura tidur. Dan syukurlah mereka tidak punya keberanian untuk membangunkan saya yang pura-pura tidur. Akhirnya mereka turun dan membagi uang yang mereka peroleh di pinggir lampu merah. Waktu berjalan begitu cepat, 2 menit tidak terasa telah dilewati. Berhenti selama hampir 3 menit di lampu merah membuat saya berpikir bahwa  banyak orang yang mencari sesuap nasi dengan berbagai cara. Ada yang mengamen, mengemis dan mengatur lalu lintas.





meResensi resensi (bingung kan??)

27 05 2010

Chris Weitz memiliki beberapa visi bagus dalam menampilkan beberapa bagian dari film ini ke layar lebar. Sebagai penonton yang belum pernah membaca novelnya, mungkin arti sebenarnya dari adegan itu tidak saya dapatkan secara lengkap, namun Chris Weitz tetap mampu menyajikan satu cerita utuh, yang telah mendapat rating kurang adil dimana-mana.

Menceritakan lanjutan dari kisah antara Edward Cullen dan Bella Swan, dan sejak awal, film ini sudah menampakkan plotnya, yaitu permasalahan mulai muncul diantara kisah kedua tokoh ini. Edward yang abadi dan keluarganya yang sebenarnya vampire, dengan Bella yang “mortal” dan dalam dirinya ingin bergabung menjadi salah satu dari Cullen.

Satu insiden kecil membawa film ini ke plot utamanya, pengenalan para werewolves dan hubungan Jacob-Bella. Weitz mampu mevisualisasikan beberapa adegan secara khas, beberapa adegan yang cukup memorable, ketika Bella Swan patah hati setelah ditinggal Edward, adegan pengejaran Victoria di hutan, adegan Bella memburu ke arah Edward di jam lonceng, dan lainnya.

Keuntungan dari film kedua ini adalah, plot bisa langsung melewati bagian perkenalan, sehingga sutradara dan penulis bisa langsung memadatkan cerita sejak awal. Beberapa konflik langsung dimunculkan di awal. Plot yang cepat di awal ternyata melambat dan mulai bertele-tele ketika Bella patah hati.

Yang membuat film ini terasa berat justru adegan romance yang memang plot utama film ini. Di setiap adegan romansa, baik antara Jacob dan Bella, maupun “yang sedikit” antara Edward dan Bella, film ini serasa ditarik dan dipanjang-panjangkan. Mungkin ini yang ditunggu para fansnya, tetapi perlukah adegan-adegan itu ditarik panjang sehingga mendapat durasi film yang 2,5 jam?

Lain halnya dengan akting, semua tokoh utama tidak menampakkan akting yang baik. Hanya Michael Sheen yang mampu menarik perhatian ketika muncul di akhir film ini. Sementara Dakota Fanning tidak kebagian cukup banyak peran untuk bisa menunjukkan kemampuannya. Akting terparah ditunjukkan oleh para lelaki telanjang dada werewolves, yang tampaknya lupa berakting karena telanjang.

Chris Weitz mungkin telah berusaha menyertakan beberapa adegan yang bisa menarik untuk target demografik yang berbeda, namun ketidakseimbangan plot antara romance dan action, mungkin membuat frustasi para kritikus di luar sana, terutama yang sedang patah hati.

Resensi di atas bukan gw yang ngeresensi tapi gw ambil dari

http://www.flickmagazine.net/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&cntnt01articleid=262&cntnt01returnid=59

menurut gw penulis resensi sudah cukup baik meresensikan film New Moon. Tapi sayangnya pendapatnya tentang resensi film ini diperlemah oleh ucapannya yang mengatakan bahwa ia belum pernah membaca bukunya. Sehingga dapat membuat para penonton sedikit tidak percaya dengan resensi yang ia tulis.

Kelebihan dan kekurangan dari film ini Ia sampaikan dengan baik. Seperti beberapa adegan yang dapat selalu dikenang Ia tulis di resensi ini. Selain beberapa kebaikan peresensi pun menulis banyak kekurangan. Plot yang bertele-tele dan adegan yang tidak terlalu bagus dari para pemeran diceritakan oleh peresensi secara langsung, sehingga calon penonton pun terpengaruh dengan resensi yang ia tulis.

Ketika membaca resensi ini secara keseluruhan, peresensi meresensikan film New Moon ini dengan cukup baik untuk memberitahu calon penonton bagaimana jalan cerita dan kelebihan dan kekurangan dari film ini. Walaupun peresensi belum membaca bukunya, tapi hal itu tidak mempengaruhi tulisannya dalam meresensi film. Karena yang ia lakukan bukan membandingkan buku dan filmnya.. tapi itu kan pendapat gw aja,, hehehe





Tips dan Trik Menghindari Copet di Bis

7 04 2010

Cuaca panas hari itu membuatku malas untuk pergi ke kampus. Jadi, aku sengaja untuk memperlambat keberangkatanku ke kampus. Kuputuskan untuk berangkat setengah jam sebelum kelas dimulai. Padahal, aku tahu bahwa untuk sampai ke kampus, tidak mungkin bisa ditempuh dalam waktu setengah jam. Keberangkatanku dari rumah untuk sampai di kampus membutuhkan waktu 45 menit. Perjalanan yang kutempuh sedikit melelahkan, tapi cukup menyenangkan. Lalu aku menyetop bus jalur 7 sambil berharap bahwa bus yang aku tumpangi akan melaju dengan cepat. Dan keinginanku terkabul. Bus itu melaju dengan kencang karena tidak ingin disusul dengan bus yang ada di belakangnya.    Bus pun berhenti di Jembatan Janti. Aku berpikir, mengapa ya, supir bus ini harus berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Padahal, aku yakin di jalan nanti akan ada penumpang lagi. Tetapi itulah manusia, selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah diperoleh. Beberapa penumpang pun naik. Ketika kuperhatikan, sebagian besar adalah penumpang bis dari Solo, yang kemudian berganti bis di bawah Jembatan Janti ini. Tinggal di Solo, tetapi bekerja atau belajar di Yogyakarta. Tak terbayang betapa melelahkannya perjalanan yang harus mereka tempuh setiap harinya. Hiruk pikuk di dalam bus membuat aku tak bisa memejamkan mata. Pengamen, pedagang asongan, penjual koran, atau pun penumpang yang mencari tempat duduk lalu lalang.Beragam profesi campur aduk di dalam bis tua ini, dan mereka harus berbaur menjadi satu.

Setelah berhenti selama kurang lebih 10 menit, bus pun kembali melaju. Aku menengok keluar jendela. Hm, pantas saja. Sudah ada bus lain dengan jurusan yang sama mendekati area Jembatan Janti. Seakan menuntut haknya untuk mencari penumpang di tempat itu. Mungkin memang ada hukum tidak tertulis yang menyatakan bahwa sesama supir bus dengan jurusan yang sama tidak boleh saling mendahului. Dan, mungkin, ada pula aturan mengenai berapa lama bus harus berhenti untuk menunggu penumpang yang akan naik. Atau, solidaritas di antara sesama supir bus yang menyebabkan supir bus yang kutumpangi tahu diri. Ia memberikan kesempatan yang sama bagi bus di belakangnya untuk mencari penumpang. Aku tidak tahu.

Ketika bus sampai di Jalan Kaliurang, ada dua orang pria naik. Mereka mengenakan kaos, dengan ransel yang tergantung di pundak. Menilik dari penampilannya, kupikir mereka hanyalah mahasiswa yang biasa menggunakan bus jalur 7 ini, seperti halnya diriku. Jadi mereka kuabaikan saja.

Ketika bus sampai di Fakultas Kedokteran, seorang mahasiswa kedokteran – aku tahu itu karena ia mengenakan jas co-ass – bersiap-siap hendak turun. Kedua ‘mahasiswa’ yang sebelumnya naik di Jalan Kaliurang pun ikut bergerak. Orang pertama mendahului mahasiswa kedokteran, lalu berdiri di depan pintu keluar. Dan orang kedua berdiri di belakang mahasiswa tersebut. Posisi mahasiswa berjas co-ass itu pun menjadi terjepit di antara dua orang.

Ketika mahasiswa kedokteran itu menyetop bus sambil berteriak, “Kiri!”, si orang pertama tidak langsung memberikan jalan agar mahasiswa kedokteran itu mudah keluar. Karena ternyata, pada saat yang bersamaan, orang kedua sedang beraksi, mencopet dompet mahasiswa malang tersebut. Aku melihat hal itu. Mereka berdua bukan mahasiswa! Mereka adalah pencopet. Tapi bibir ini mendadak kelu, tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan untuk berteriak, “Copet!” pun aku tidak sanggup. Aku terlalu takut akan keselamatanku. Memang sedikit egois. Tapi, apa boleh buat. Akhirnya aku hanya berdoa semoga ada orang lain yang lebih berani dan menyadari hal itu lalu berteriak memperingatkan mahasiswa itu. Tiba-tiba, ketiga orang yang berdiri dekat pintu masuk bus hampir terjatuh akibat rem mendadak yang dilakukan oleh supir bus. Dan mahasiswa kedokteran itu merasa bahwa ada sesuatu yang ganjil. Dia langsung memeriksa saku belakangnya dan langsung menyadari bahwa dompetnya telah hilang. Dia pun mendamprat pencopet kedua, yang berdiri tepat di belakangnya. “Woi, lu copet ya?!”. Detik itu juga, pencopet kedua langsung mengoper) dompet tersebut ke pencopet pertama. Tapi mahasiswa kedokteran itu tidak menyadarinya. Lagi-lagi akupun melihat hal itu, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi ada seorang pelajar memberikan kode kepada mahasiswa kedokteran itu dan memberitahu bahwa dompetnya ada di pencopet pertama. Kemudian si mahasiswa kedokteran  membentak pencopet itu sambil memeriksa dengan paksa tas pencopet pertama. “Woi, kembalikan dompet gue!”. Dompet itu ditemukan di dalam tas pencopet pertama. Aksi pencopetan pun terbongkar. Si kenek bus – yang sepertinya sudah sangat akrab dengan situasi seperti ini – menyuruh mereka bertiga untuk cepat turun dan menyelesaikan permasalahannya di luar bus sehingga bus bisa melanjutkan perjalanan.

Bus pun melanjutkan perjalanan. Saat itu, ada hal yang membuat aku terkejut. Supir bus itu berkata kepada keneknya “Aku wis ngerti dari tadi, makanya sengaja ta’ injek rem mendadak.” Ternyata supir bus itu sudah hafal dengan wajah-wajah para pencopet! Tapi, kurasa supir itu berpikiran sama denganku. Demi keselamatan diri sendiri, lebih baik ia diam.

Berkaca dari pengalaman buruk di atas, aku ingin mengingatkan kepada pembaca agar berhati-hati dan selalu waspada ketika menggunakan kendaraan umum, terutama bus. Jagalah barang bawaan anda di bus. Salah satu modus para pencopet – karena mereka jarang beroperasi sendiri – tersebut adalah merapatkan badannya dengan korban, atau mengapit korban di depan dan belakang ketika hendak turun dari bus. Dengan cara tersebut pencopet yang ada di belakangt korban bisa leluasa mengambil barang berharga korban, dan langsung mengoper ke temannya yang ada di depan korban. Sehingga ketika korban yang merasa dicopet mencoba memeriksa pelaku yang berdiri di belakangnya, barang bukti sudah lenyap.

Beberapa antisipasi yang bisa dilakukan adalah:

  1. Jangan menaruh barang berharga – seperti ponsel, dompet – di bagian depan tas, di kantong, atau di tempat lain yang mudah dirogoh oleh pencopet.
  2. Jika hendak turun dari bus, pastikan tas didekap di dada, tidak dibiarkan menggantung di samping badan atau di punggung.
  3. Hati-hati jika ada orang yang merapatkan badannya ketika hendak turun dari bus. Apalagi jika kita merasa diapit dari dua sisi.

Mengutip pernyataan terkenal yang sering kudengar di televisi, kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Jadi, memang seharusnya kita yang waspada, agak tidak menjadi korban kejahatan.

*ada juga link tips menghindari copet tapi di angkot,, lebih lengkapkap,, wkwkwk

http://eengsu.wordpress.com/2010/04/06/ciri-ciri-copet-dan-cara-menghindari-copet-diangkot/








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.